11:00 PM

Natal Pertama Tanpa Kue di Rumah Sutedjo

VIVAnews - Sutedjo, 73 tahun, pada misa jelang Natal 24 Desember 2011 sore, tergolek lemah di ranjang rumahnya yang sempit di kampung Bausasran DN 3/706 RT 44 RW 11 Danurejan, Yogyakarta. Sudah 3 bulan ini ia terbaring di tempat tidur rumahnya di perkampungan sebelah selatan Stasiun Lempuyangan Yogya itu, setelah serangan stroke yang sempat membuatnya menginap hampir sebulan di rumah sakit.

Tentu saja ia sedih, tak bisa ikut misa Natal di gereja. Bagi Sutedjo, merayakan kelahiran sang Jesus Kristus ya dengan menghadiri misa Natal.

Ia mengaku tak pernah membelikan baju baru untuk ke sembilan anaknya yang delapan di antaranya kini tinggal seatap di rumah berukuran 9 m X 9 m itu. Satu anaknya lagi, ikut suaminya, tinggal di Jakarta. “Kalau ada rejeki ya beli kue-kue, masak pakai lauk ayam. Sekarang ya nggak ada apa-apa,” katanya terbata-bata.

Sore itu, ada empat anak dan satu menantu yang bergiliran menjaganya, sementara yang lain ikut misa ke gereja. Keempat putra Pak Tedjo tersebut di antaranya, Antonius Prastyanto, anak ketiganya, yang menderta buta sejak 12 tahun yang lalu, setiap hari hanya tiduran di ranjang, seperti Pak Tedjo. Yohanes Prasojo, putra ke empat, menderita stroke di sisi kanan tubuhnya. Clara Prastyanti, putri kelima yang sudah bersuami, Paulus Kuat Prayogo.

Dalam bicaranya yang terbata dan agak sulit dimengerti, Pak Tedjo mengungkapkan harapannya agar Tuhan tak meninggalkan keluarganya yang dalam kesulitan. Salah satu anaknya menuturkan, kondisi keluarga mereka banyak yang sakit dan semuanya kesulitan ekonomi, namun hidup rukun. "Memang kami kesulitan ekonomi dan banyak yang sakit, tapi rukun semua."

Pekerjaan Pak Tedjo dulu hanya buruh serabutan. Sembilan anaknya tak ada yang bersekolah lebih dari SMP, bahkan ketiga anak pertamanya hanya lulusan SD.

Dari delapan anaknya yang tinggal bersama di satu rumah itu, tak ada yang memiliki pekerjaan tetap. Antonius yang buta, dari ranjangnya berteriak keras, "Saya hanya membebani keluarga."

Total keluarga berisi 16 orang (Pak Tedjo dan istri, delapan anak, 4 menantu, dan dua cucu) itu memerlukan beras 2,5 kg per hari untuk makan dua kali per hari. Untuk lauk pauk perlu Rp20 ribu yang hanya cukup untuk membeli pilihan sayur saja atau tempe atau telur tanpa sayur.

"Kami nggak pernah makan tiga kali, seumur hidup ya paling banyak dua kali sehari. Kalau dengan sayur ya tanpa lauk, kalau lauk saja ya tanpa sayur. Kami dibantu beras miskin 15 kg per bulan," kata Clara.

Untuk menopang kebutuhan sehari-hari, ke delapan anak Pak Tedjo berbagi, siapa yang sedang punya uang itulah yang mereka gunakan bersama untuk memenuhi dan membayar kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, untuk membayar biaya rumah sakit Pak Tedjo sebesar Rp5 juta, mereka mendapat sumbangan dari tetangga dan teman-teman Pak Tedjo di grup keroncongan tempat Pak Tedjo dikenal sebagai pemain gitar yang handal. Kini mereka memilih pengobatan alternatif jamu yang perlu Rp60 ribu per minggunya.

Natal tahun ini, mereka anggap sebagai Natal paling sulit. Natal pertama tanpa satu pun kue di piring mereka. "Semoga, Natal ini akan membawa terang bagi keluarga kami," kata Antonius Prastyanto. Laporan Erick Tanjung | Yogyakarta (adi)

• VIVAnews


0 Responses to “Natal Pertama Tanpa Kue di Rumah Sutedjo”

Post a Comment