2:05 AM

Asia di Tahun Naga

VIVAnews - Kita memasuki tahun Naga Air Hitam. Dalam siklus astrologi, simbol  itu menyiratkan perubahan, dengan memberi penekanan pada ketenangan,  kearifan, dan kehati-hatian. Para penduduk serta pemerintahan  negara-negara Asia berharap bahwa hal itu terbukti. Meski di lain pihak, kondisi  tidak menentu - dari dalam dan luar kawasan - kian menggembung. 

Asia yang tengah tumbuh telah menunjukkan hasil relatif baik dalam dua  tahun terakhir. Kawasan ini membimbing dunia keluar dari "Resesi Besar" yang  terjadi pada tahun 2008-2009. Pertumbuhan ekonomi rata-rata tercatat mencapai  9% pada tahun 2010. Pemulihan ekonomi itu memperkuat ekspansi ekonomi. Pada  tahun 2011, di tengah perjuangan Eropa melepas belitan utang serta pemulihan  ekonomi AS yang berjalan lambat, ekonomi Asia masih bisa tumbuh di angka  7,5%.  

Risiko tertinggi ekonomi di kawasan itu adalah terbenamnya Eropa ke dalam  resesi yang lebih parah. Atau, kemungkinan bahwa pemulihan ekonomi AS  tersendat oleh pemilihan umum yang akan digelar tahun ini. Volatilitas jadi  penentu sikap pasar, tak terkecuali Asia. Sentimen investor lebih mudah  terpancing oleh peristiwa harian daripada tren-tren jangka panjang lainnya. 

Jika krisis eurozone membawa ekonomi pada sovereign default (kegagalan negara  melunasi utang), maka virus kelesuan ekonomi akan melanda dunia. Dalam jangka  pendek, Asia dan negara berkembang lain akan terpukul. Arus perdagangan dan  investasi yang melewati bank-bank Eropa akan terhambat. Bank-bank Amerika  yang harus menambah modal mereka demi bertahan dari penyaluran dana ke Eropa  juga akan terimbas. Jika krisis baru muncul, perdagangan internasional dan  pertumbuhan ekonomi Asia akan terganggu.  

Namun, tetap saja Asia akan lebih aman dari kerentanan finansial yang datang  dari luar. Banyak negara terus mengalami surplus transaksi berjalan dan  memiliki utang luar negeri rendah dengan cadangan devisa tinggi. Banyak  negara Asia punya sistem perbankan yang baik dengan modal tinggi dan rasio  kredit macet yang rendah. 

Dengan itu, Asia akan punya lebih banyak ruang untuk melakukan manuver di  masa krisis. Para pembuat kebijakan juga akan bereaksi dengan memanfaatkan  perangkat makroekonomi secara tepat guna dan segera. Namun, kita mesti  mengingat bahwa - seperti yang terjadi di tahun 2008 - Asia belum lagi lerai  sepenuhnya dari Barat. 

Karenanya, para pemimpin Eropa mesti berkomentar dan bertindak dengan penuh  tanggung jawab serta bekerja lebih keras demi bisa bangkit dari krisis. Eropa  jelas-jelas punya potensi keuangan dan politik yang kuat untuk keluar dari  masalah yang menderanya dengan bantuan dari lembaga keuangan internasional  maupun regional. 

Namun, mungkin ada hal yang bisa dipelajari Eropa dari Asia. Ketika Asia  berkutat dengan krisis keuangan tahun 1997-1998, para pembuat kebijakan  mengadopsi tindakan yang disiapkan demi menghadapi, mengonsolidasi, serta  merestrukturisasi sistem keuangan, terutama perbankan. Memang tak mudah.  Namun, ketika itu, lingkungan eksternal masih kondusif untuk memulihkan  ekonomi kawasan. Satu dekade kemudian, Asia punya cukup modal dan ruang  fiskal untuk merangsang pemulihan ekonomi secara cepat ketika ekonomi global  sedang sakit. Eropa juga mesti melewati proses penyesuaian yang mahal dan  menyakitkan untuk memperbaiki sistemnya. 

Asia mampu pula ikut serta dalam pemulihan ekonomi global. Tentunya, ekonomi  Asia yang punya cadangan uang berlebih dapat berpartisipasi dalam menyalurkan  paket suntikan modal. Tapi, hal terbaik yang bisa Asia lakukan adalah menjaga  pertumbuhan ekonomi yang kuat. Dengan menyediakan peluang bagi pertumbuhan,  Asia dapat memainkan peran penting dalam menggerakkan ekonomi global. 

Artinya, Asia harus meningkatkan upaya menyeimbangkan ulang pertumbuhannya  dengan mengurangi kebergantungan akan ekspor dan mengatrol belanja domestik,  yang pada gilirannya menyokong tuntutan impor. Tantangan utamanya adalah  menjaga pertumbuhan akan permintaan domestik alih-alih hubungan kuat Asia  dengan ekonomi global. Hal itu akan menguntungkan ekonomi kawasan, menopang pertumbuhan regional, serta menyokong pertumbuhan dunia. 

Jika Asia mampu mengatasi segala kesulitan jangka pendek, dan pasar keuangan  dunia menjadi stabil, kawasan ini akan memiliki prospek cemerlang.  Pertumbuhan rata-rata PDB tahunan pada 2012 agaknya akan serupa dengan tahun  lalu, yakni di atas 7%. Penelitian yang dilakukan oleh Bank Pembangunan Asia  menunjukkan bahwa Asia memiliki sumbangan terhadap ekonomi dunia sebesar 52%  pada tahun 2050. Tapi, tentunya itu masih merupakan perkiraan. 

Pada jangka menengah, Asia menghadapi beberapa tantangan. Yang terbesar,  meningkatnya kesenjangan. Pertumbuhan ekonomi yang berlangsung pesat selama  bertahun-tahun telah memperparah kesenjangan. Di kota-kota China, contohnya,  koefisien Gini bagi kesenjangan - dengan 100 sebagai poin tertinggi - telah  naik dari 25,6% pada tahun 1990 menjadi 34,8% pada tahun 2005. Gejala ini berbeda dari yang pernah terekam pada dekade 1980an dan 1990an ketika  pertumbuhan yang tinggi dibarengi dengan kesenjangan menurun. 

Hasilnya, kesenjangan domestik kini menjadi ancaman besar bagi stabilitas  sosial serta mampu menghambat prospek pertumbuhan jangka panjang. Itu  sebabnya pemerintah banyak negara harus berupaya memastikan bahwa pertumbuhan  berlangsung inklusif, dengan manfaat yang dibagi rata, termasuk bagi para  perempuan dan kaum papa. Pun, manfaat itu harus bisa menjangkau daerah  terpencil. Para manula di Asia juga harus mendapatkan jaminan sosial. Selain  itu, akses yang kian kuat pada kesehatan dan pendidikan akan dapat membantu  proses penyeimbangan ulang. 

Meningkatnya kesenjangan bukan masalah Asia belaka. Di Asia, kesenjangan  meledak pasca krisis keuangan 1997-1998. Eropa juga takkan bisa menghindar  dari pola itu. Eropa juga harus mengambil langkah yang bisa menolong mereka  untuk keluar dari krisis dengan menekankan pertumbuhan inklusif. 

Memasuki Tahun Naga, Asia mungkin dapat memberikan sumbangan terbaiknya.  Yakni, pendekatan yang tenang, arif, dan hati-hati demi meredakan krisis  global dengan cara terus menjaga ekonomi dan transformasi yang stabil.

-- 

Haruhiko Kuroda adalah Presiden Bank Pembangunan Asia (ADB). Artikel ini diterjemahkan dari laman www.project-syndicate.org

 

• VIVAnews


0 Responses to “Asia di Tahun Naga”

Post a Comment